Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2018

Ssttt

Hai, sedang apa? Tunggu, tak usah kau jawab, ku tau kau sedang membacanya Boleh ku tanya? Kau apa kabar? Baik bukan?  Adakah yang menyakitimu selepas kau melakukan itu padaku? Ku harap tidak, Semoga hanya bahagia yang menghampirimu selalu Kudengar, kau mencariku lagi? Ada apa? Ingin bicara? Ohya, aku ingin bercerita Pertama, kabarku di sini baik-baik saja Masih sama sejak saat kita memutuskan berpisah Iya, baik baik saja Semua karena pura-pura yang akhirnya kulupa Aku hebat kan? Seperti sosok yang kamu harapkan saat itu Yang harus baik-baik saja prihal kehilanganmu Yang kau paksa untuk biasa saja tentang kepergianmu Iya, aku bisa, sekali lagi, aku hebat kan? Terimakasih sebelumnya, dan kau tak perlu balas Maaf, aku datang bukan lagi ingin menetap Aku hanya ingin menyapa rumah lama Semoga kamu tetap bahagia, ya! -Fakir Aksara, 2018

Jarak?

Bicara tentang ruang, aku masih tak begitu mengerti, mengapa tiap jarak harus selalu menyisahkan rindu Padahal jarak bukan cuma tentang pisah, kan? Adanya jarak justru membuatmu belajar, belajar menghargai apapun selagi   dekat Adanya jarak harusnya membuatmu mengerti, bahwa yang   jauh bukan berarti pergi Memangnya kenapa, jika jarak itu ada? Yang terikatpun akan tetap terikat seberapa jauhpun jarak Jarak itu cuma masalah geografis Selebihnya sama saja bukan? Sedikit rindu, itu bisa menjadi pemanis, kan? -Fakir Aksara, 2018

Hujan

Hujan selalu memiliki arti di setiap tetesnya Dan aku selalu memiliki maksud pada setiap kata Baca baik-baik bait ini dan telaah maknanya Apakah kau menemukan apa maksudnya? Cinta, adalah satu kata tersulit untuk ku ungkapkan Namun selalu aku tunjukkan secara perlahan Apakah kau rasakan? Berjuang meruntuhkan mengalahkan dinding pertahanan? Ohya, Akan ku ceritakan sedikit Bahwa menahan perasaan itu sulit Ya benar, mencintai dalam diam memang pahit Namun juga indahnya membuatku enggan pamit Hujan, selalu membawaku ke dalam pilihan Berhenti walau terlanjur kebasahan? atau melanjutkan namun kedinginan? Hebat bukan? Hujan selalu membawaku kepada sebuah kebingungan Berteduhlah! orang-orang bilang Katanya, jangan terus-menerus dihadang Padahal hujan tau kapan harus pulang Aku bilang, tidak akan Aku paham cara menikmati hujan Walau dingin, tapi menyejukkan Kebetulan, aku benci kepanasan. -Fakir Aksara, 2018

Pulang

Bagiku, part paling menyedihkan dalam suatu perjalanan adalah pulang Walau sejatinya setiap yang pergi akan kembali Pulang tetap punya porsi lukanya tersendiri Aku bisa saja terlihat baik-baik saja saat meninggalkanmu pergi Tapi lain dengan masalah hati Hati manapun tak pernah bisa merasa baik-baik saja saat meninggalkan apa yang sudah digenggam Tapi, aku harus pulang Walau kau memang persinggahan ternyaman dalam jurnal perjalananku Bagaimanapun juga, rumahku tetap senyaman-nyamannya tempat tinggal Terimakasih telah ada dalam perjalananku Terimakasih sudah mengajari Bahwa yang nyaman, bukan berarti tak terpisahkan Pahamilah, kau juga punya rumah. Sampai berjumpa kembali -Fakir Aksara, 2018